Covid-19 sama seperti virus-virus lain yang membutuhkan inang, dalam kasus ini yaitu tubuh manusia, untuk membantunya menyebar.  Pada dasarnya, virus adalah sebuah sepotong materi genetik yang tidak dapat melakukan banyak ‘hal’ dengan sendirinya.  Ia harus menyerang tubuh makhluk hidup agar dapat berkembang biak. Sebab, tanpa tubuh makhluk hidup, virus akan mati.

Virus tidak sama dengan bakteri. Ia tidak butuh makan, minum, mengeluarkan kotoran, atau beristirahat. Pekerjaan satu-satunya adalah melakukan reproduksi dengan menggandakan diri. Akan tetapi, kegiatan ini dapat dilakukan saat virus menemukan inang yang tepat.

Covid-19 bukan satu-satunya penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Ada jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh virus corona yang berbeda, di antaranya adalah SARS dan MERS. 

Jalur penularan utama dari virus corona Covid-19 adalah melalui tetesan. Pasien terinfeksi yang batuk atau bersin mengeluarkan tetesan keluar yang mengandung virus. Virus tersebut akan masuk ke tubuh orang lain saat bernafas atau saat menyentuh permukaan di mana tetesan tersebut menempel.

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman menyatakan virus Corona tidak akan hilang dari muka bumi dalam waktu yang lama. Karena itulah, istilah berdampingan lebih tepat digunakan daripada berdamai dengan virus itu.

Prof Amin mengatakan umat manusia punya sejarah dan pengalaman hidup berdampingan dengan mikroba lain, seperti virus influenza, HIV, maupun demam berdarah. Menurutnya, yang perlu dilakukan adalah mengenali virus tersebut untuk bisa mencegah penularannya.

Karena Corona adalah virus baru, menurut Prof Amin, manusia harus menyesuaikan dan hidup lebih baik agar tidak tertular. Penerapan normal yang baru atau new normal menurutnya adalah penyesuaian dengan memahami perilaku virus Corona.

“Saya melihat dari sudut mikrobanya, pertama tidak bisa mengharapkan virus itu akan lenyap dari muka bumi ini dalam waktu yang singkat, tapi kita bisa mengurangi angka kesakitan dan juga angka kematian. Dan tentunya tidak ada yang mau menjadi korban kan, sekalipun dia usianya lanjut. Jadi dengan memahami perilaku si virus itu, kita tinggal menyesuaikan diri. Itu yang akan menjadi ‘new normal‘ tadi,” ujar Prof Amin. (Sumber: Tim Riset Thisable)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *